Sabtu, 07 Januari 2017

Perikecilmu

Sakiti saja terus menerus peri kecilmu ini, semakin dalam perih yang kau goreskan maka akan semakin baik pula untuk dirimu nantinya. Kau tahu apa yang ku maksutkan? Sama seperti pepatah ‘apa yang ia tanam, itu pula yang akan ia tuai.’ Begitulah kisah dirimu nanti.

Aku bisa saja membalas apa yang kau lakukan terhadapku. Tapi aku lebih senang menunggu, ya menunggu Karma itu datang membujukmu dengan indah, membuatmu terlena lalu kau di hempaskan. Indah bukan? Ada berbagai seni di dalam sana dan aku salah satu penikmat seni tersebut.

Kau akan merasakan apa yang pernah aku alami, maka bersiap-siaplah. Habiskan waktumu bersamanya sebisa mungkin, karena kelak kau akan lebih sering menerima rasa sakit seperti aku yang selalu kau cekoki dengan kesakitan luar biasa.

Saat itu terjadi, bukan hanya aku yang akan tertawa terbahak. Tapi juga mereka yang kau khianati. Mereka yang merasa hatinya telah kau permainkan. Mereka yang tahu bahwa kau melupakan mereka seperti kau melupakan mainanmu di waktu kecil, begitu mudah saat kau punya mainan baru.

Terlihat sangat kejam ya, tapi itu semua karena ulahmu. Aku hanya bisa menonton ketidak adilan yang kau lakukan, berbalik menimpah dirimu sendiri. Lucu. Tapi sungguh, itu amat sangat menghibur dan lebih mudah di cerna haha.

Jumat, 06 Januari 2017

Bukan karena tak sanggup

Apakah kau merindukanku? Seperti aku yang selalu merindukanmu. Apakah kau mengenang hari-harimu saat bersamaku? Seperti aku yang selalu terbawa arus kearahmu. Apakah kau menginginkanku kembali mengisi kekosongan hatimu? Seperti aku yang selalu berharap kau bersedia untuk kembali. Ku pikir TIDAK, kau bahkan tak perduli. Tapi kemudian kau tersenyum, dan itu membuatku berfikir “Ya! Kau merindukanku!” lalu semua sirna, saat ku sadari senyum itu bukan untukku. Kau tidak tersenyum untukku. Dan bukan aku yang menjadi alasanmu tersenyum.

Kau melihatnya. Dia yang selalu terlihat berkilau bagai permata, padahal aku ada di belakangnya. Dia yang selalu terlihat sempurna, padahal aku ada di belakangnya. Dia yang selalu terlihat baik hati, padahal aku ada di belakangnya. Kau tak akan pernah tahu, tak ingin tahu karena kau selalu menyingkirkan aku di setiap moment indah di jalan yang kau lalui.

Kamu tahu aku rindu. Kamu tahu aku resah. Kamu tahu aku rapuh. Tapi kau tetap tak ingin rasakan. Aku menahan rindu sampai habis air hingga tak mengalir lagi. Aku menahan resah sampai hati ini tersayat-sayat hingga dalam. Aku bertahan berusaha tak terlihat rapuh sampai hatiku retak nyaris tak terselamatkan.

Sampai kapan rasa ini tak berbalas? Tak ku bayangkan bila harus lebih lama lagi…

Bukan karena aku tak sanggup, bukan karena aku tak ingin, bukan karena aku lelah. Tapi aku hanya takut mengganggumu lebih lama lagi, aku takut untuk merasakan padahal aku sangat ingin. Oh sayang, sekeras itukah hatimu? Sekokoh itukah pertahananmu? Setinggi itukah penilaianmu? Hingga akupun terlalu rendah, terlalu kecil, terlalu rapuh untukmu. Padahal kau sangat mengerti aku rindu.

Kado untuk amil

Menyakitkan memang kalau harus pergi ke masa lalu hanya untuk melihat kenangan indah tanpa bisa menyentuhnya. Menyakitkan kalau harus merasakan sesal di dada ketika mengingat kecewa yang di torehkan di masa lalu tanpa bisa di perbaiki. Menyakitkan kalau harus menyadari akan waktu yang sudah terbuang indah mengalir meninggalkan semua kenangan dan harus di tutup rapat. Tak akan habis kata menyedihkan, bukan sebuah kisah yang menyedihkan. Tapi karena hati tak dapat lagi saling berkata, hati tak dapat lagi saling merasa, hati tak dapat lagi saling berbagi, dan hati tak dapat lagi saling menatap.

Rasa sesak sebuah sesal tak pernah habis menyiksa, bukan karena tidak rela. Tapi karena ini tidak semudah saat kita tersenyum walaupun di balik itu semua ada bingkisan yang tersembunyi. Terbungkus indah dan rapi seperti saat pertama kali di tinggalkan atau di beli oleh pemiliknya.

Meskipun begitu, hari akan terus berganti. Yang lalu akan tetap tertinggal. Dan saat ini semua sudah tergantikan. Walaupun berusaha untuk berlari dan mengejar, tetap saja akan tertinggal jauh di belakang. Diam adalah cara terampuh untuk mengatasi hati yang mungkin semakin dalam saja parahnya. Ini semua hanya sebuah proses, hadiah dalam sebuah hubungan. Semua hadiah tidak harus terbungkus manis kan? Terkadang sesuatu yang menyakitkan akan terbalas indah di kemudian hari.

Terima kasih sang pemilik. Terima kasih untuk sebuah bingkisan indah. Kado manis dari sebuah proses menuju dewasa. Hiasan sebuah perjalanan penghantar masa yang akan datang.

Lihatlah aku


Aku yang selalu mencintaimu walaupun kamu tanpa sadar selalu mematahkan perasaanku. Aku yang selalu menjagamu walaupun kamu tanpa sadar ingin merobohkan benteng yang kubuat untukmu. Aku yang selalu merasakan kesakitanmu walaupun kamu tanpa sadar menyiramkan yang lebih dalam lagi. Aku yang selalu menjaga hatiku dengan sangat hati-hati walaupun kamu tanpa sadar dengan mudahnya menghempasnya.

Kau tak pernah sadar akan rasa yang selalu ku jaga. Kau tak pernah sadar akan rasa yang selalu kau hempaskan ini. Lalu, bagaimana jika aku yang selalu tersingkirkan ini pergi? Bagaimana jika aku yang selalu ingin menjadi rumahmu ini runtuh? Bagaimana jika aku yang selalu ingin menjadi bintang di hatimu ini tak lagi bercahaya? Bagaimana jika aku yang selalu ingin mempertahankanmu di ujung jurang sekalipun akan terjatuh? Apa kamu akan tak baik-baik saja karena kehilangan sosokku? Apa kamu akan merindukan diriku? Mungkin tidak, karena melihatku saja kau tak pernah benar-benar melihat.

Aku ingin pergi. Aku sudah ada pada ujung lelahku. Aku takut akan hal semu. Aku takut hanya dapat menggapaimu lewat bayangan. Tapi aku tetap mencintaimu dengan penuh. Hanya saja bicarapun tak ada gunanya, kau tak akan mendengarkanku. Memberitahumu pun tak ada gunanya, kau tak akan menahanku untuk bersamamu atau berharap aku kembali menjadi tempat persinggahan terakhirmu, Rumahmu.

Sayangnya kau hanya menganggap aku pelarian hatimu. Kau hanya menjadikanku persinggahan sementara. Kecewa, tapi kau semakin menyadarkanku kalau kamu tidak pernah mencintaiku seperti aku yang selalu mencintaimu dan mengunggu kepulanganmu di ujung lelahku.

Coba tengok rumahmu, tempat ternyaman dalam hidupmu, tempat kau melepas lelah dan penat, tempat yang kau tuju saat pulang dari pelarianmu, itu Aku.

Hello sugar

Haii kasih tak sampai yang sangat aku kagumi, apakah kabarmu baik-baik saja.. ada atau tanpa diriku? Aku harap semua masih berjalan dengan baik walaupun tanpa aku memintanya. Aku disini masih berjuang mencari keberhasilan yang sangat diimpikan ribuan bahkan jutaan manusia didunia dan aku berharap nantinya kita akan menjadi salah satu dari mereka yang menyilangkan tangannya dan mendongakkan kepala melihat masa depan yang cerah, saat itu mungkin saja kita bisa bergandengan tangan dan berjalan beriringan sambil melantunkan lagu-lagu bahagia yang sering kita dengarkan bersama. Yah, membayangkan bersamamu saja aku sudah bahagia tak terkira apalagi kalau sampai secerah khayalan yang kudamba-dambakan.

Sambil menunggu saat itu tiba, maukah kau berjuang bersamaku? Menangis dan tertawa bersamaku, hanya diriku? Kita bisa melakukan rutinitas sehari-hari, berangkat mencari ilmu, bercanda tawa saat bahagia, menangis saat terjatuh, berbincang-bincang sampai larut malam, terus menjadi diri sendiri dan mencari kebahagiaan kita sendiri tanpa peduli apa yang orang lain katakan. Rasanya aku sudah terlalu jauh memandang masa depan, bahkan setiap harinya aku selalu berkata ‘sebentar lagi, hanya sebentar’. Hm tapi bukankah itu yang namanya hidup? Berjuang sekeras apapun tanpa mempedulikan hasil akhir, terus dan terus berusaha… sama seperti aku yang berusaha percaya bahwa aku cinta.

Kupikir sosokmu seperti tongkat penyangga kokoh yang mampu membuat aku berdiri, kupikir sosokmu bagaikan tulang-tulang yang membuat aku menjadi kuat. Ya, ini adalah gambaran betapa berartinya kamu dihidupku dan betapa aku membutuhkanmu. Kamu yang berbeda, kamu yang tak sama seperti apa yang mereka katakan, aku menerimamu apa adanya tanpa meminta dirimu untuk berubah, tanpa memintamu untuk menjadi seseorang yang lain, yang baru dan lebih sempurna. Cukup, cukup seperti ini dan genggamlah tanganku, karena aku tahu dan aku mengenalmu lebih dari siapapun, aku tahu kamu menyayangiku dengan cara yang berbeda, kamu memiliki cara yang sebenarnya tak banyak orang mengerti.

Ketika aku dihujami seribu perasaan haru saat melihat bola matamu, aku berfikir… apakah kamu melihat sirat ketulusan dimataku? Apa kamu melihat sinar kebahagiaan yang tak ada habisnya saat aku bersamamu? Apa kamu melihat gumpalan air mata yang berdesakan ingin keluar ketika kamu ingin mengakhiri kebersamaan hari ini? Aku... Aku ingin jadi seseorang yang menyayangimu, seseorang yang menjagamu, seseorang yang siap menggantikanmu, seseorang yang akan memelukmu dengan hangat saat kau merasa sepi. Kamu.. kamu percayalah aku ingin bersamamu, mendengarkan setiap ceritamu sepenuhnya, hanya aku… bagaimanapun, kapanpun, hingga aku mampuJ

Jadi, apakah kita harus mulai membuat jalan baru.. jalan menuju bahagia..jalan menuju kearah yang lebih baik tanpa ada pijakan yang lainnya?