Aku yang selalu mencintaimu walaupun kamu tanpa sadar selalu mematahkan perasaanku. Aku yang selalu menjagamu walaupun kamu tanpa sadar ingin merobohkan benteng yang kubuat untukmu. Aku yang selalu merasakan kesakitanmu walaupun kamu tanpa sadar menyiramkan yang lebih dalam lagi. Aku yang selalu menjaga hatiku dengan sangat hati-hati walaupun kamu tanpa sadar dengan mudahnya menghempasnya.
Kau tak pernah sadar akan rasa yang selalu ku jaga. Kau tak pernah sadar akan rasa yang selalu kau hempaskan ini. Lalu, bagaimana jika aku yang selalu tersingkirkan ini pergi? Bagaimana jika aku yang selalu ingin menjadi rumahmu ini runtuh? Bagaimana jika aku yang selalu ingin menjadi bintang di hatimu ini tak lagi bercahaya? Bagaimana jika aku yang selalu ingin mempertahankanmu di ujung jurang sekalipun akan terjatuh? Apa kamu akan tak baik-baik saja karena kehilangan sosokku? Apa kamu akan merindukan diriku? Mungkin tidak, karena melihatku saja kau tak pernah benar-benar melihat.
Aku ingin pergi. Aku sudah ada pada ujung lelahku. Aku takut akan hal semu. Aku takut hanya dapat menggapaimu lewat bayangan. Tapi aku tetap mencintaimu dengan penuh. Hanya saja bicarapun tak ada gunanya, kau tak akan mendengarkanku. Memberitahumu pun tak ada gunanya, kau tak akan menahanku untuk bersamamu atau berharap aku kembali menjadi tempat persinggahan terakhirmu, Rumahmu.
Sayangnya kau hanya menganggap aku pelarian hatimu. Kau hanya menjadikanku persinggahan sementara. Kecewa, tapi kau semakin menyadarkanku kalau kamu tidak pernah mencintaiku seperti aku yang selalu mencintaimu dan mengunggu kepulanganmu di ujung lelahku.
Coba tengok rumahmu, tempat ternyaman dalam hidupmu, tempat kau melepas lelah dan penat, tempat yang kau tuju saat pulang dari pelarianmu, itu Aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar