Apakah kau merindukanku? Seperti aku yang selalu merindukanmu. Apakah kau mengenang hari-harimu saat bersamaku? Seperti aku yang selalu terbawa arus kearahmu. Apakah kau menginginkanku kembali mengisi kekosongan hatimu? Seperti aku yang selalu berharap kau bersedia untuk kembali. Ku pikir TIDAK, kau bahkan tak perduli. Tapi kemudian kau tersenyum, dan itu membuatku berfikir “Ya! Kau merindukanku!” lalu semua sirna, saat ku sadari senyum itu bukan untukku. Kau tidak tersenyum untukku. Dan bukan aku yang menjadi alasanmu tersenyum.
Kau melihatnya. Dia yang selalu terlihat berkilau bagai permata, padahal aku ada di belakangnya. Dia yang selalu terlihat sempurna, padahal aku ada di belakangnya. Dia yang selalu terlihat baik hati, padahal aku ada di belakangnya. Kau tak akan pernah tahu, tak ingin tahu karena kau selalu menyingkirkan aku di setiap moment indah di jalan yang kau lalui.
Kamu tahu aku rindu. Kamu tahu aku resah. Kamu tahu aku rapuh. Tapi kau tetap tak ingin rasakan. Aku menahan rindu sampai habis air hingga tak mengalir lagi. Aku menahan resah sampai hati ini tersayat-sayat hingga dalam. Aku bertahan berusaha tak terlihat rapuh sampai hatiku retak nyaris tak terselamatkan.
Sampai kapan rasa ini tak berbalas? Tak ku bayangkan bila harus lebih lama lagi…
Bukan karena aku tak sanggup, bukan karena aku tak ingin, bukan karena aku lelah. Tapi aku hanya takut mengganggumu lebih lama lagi, aku takut untuk merasakan padahal aku sangat ingin. Oh sayang, sekeras itukah hatimu? Sekokoh itukah pertahananmu? Setinggi itukah penilaianmu? Hingga akupun terlalu rendah, terlalu kecil, terlalu rapuh untukmu. Padahal kau sangat mengerti aku rindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar